Birds of Muna Island #2

Melihat Kawite wite yang panas dan bertambak tambak, tentu kamu bisa menebak burung apa yang berhabitat disini. Yap, disini saya bertemu dengan cukup banyak jenis burung air (waterbird) dan shorebird (burung pantai)

Burung air yang pertama kali saya lihat disini adalah dua ekor Itik benjut tepat di tambak belakang basecamp kami. Meski bukan burung endemik Sulawesi, saya tetap senang bisa bertemu lagi dengan burung ini.

Masih di tambak yang sama, di sekitar dua ekor itik benjut itu ada beberapa jenis shorebird yang sedang asyik mencari makan. Rasa-rasanya saya tidak asing dengan mereka.

Saya arahkan lensa 400 mm saya ke mereka. Hasilnya ada beberapa jenis Trinil dan kedidi dan saya tidak asing dengannya yakni Trinil Semak, Trinil Pantai, Trinil Kaki Merah, Kedidi leher merah, dan Kedidi putih. Sekali lagi burung-burung itu bukan jenis endemik. Hanya saja, jenis-jenis yang saya sebut ini semuanya adalah burung-burung pengembara (migran).

Di hari yang lain dan juga di tambak yang lain, saya bertemu dengan lebih banyak jenis burung air. Diantaranya Gagang bayam, Kokokan laut, Bangau sandang lawe, dan beberapa jenis kuntul.

Oya, untuk jenis Gagang bayam ditempat ini jumlahnya sangat banyak. Hampir di setiap tambak yang saya kunjungi terdapat burung tersebut. Kadang anak anak kecil di sekitar tempat ini mengambil telur telur Gagang bayam itu.

Yah, semoga saja burung-burung itu masih tetap lestari. Bagaimanapun mereka adalah bagian dari Kawite wite.  Sama seperti sunsetnya yang indah dan tak pernah terpisahkan.

IMG_9981
Beautifull Sunset

List Burung Kawite wite

  1. Itik benjut
  2. Kokokan laut
  3. Bangau sandang lawe
  4. Kuntul sp
  5. Gagang bayam sp
  6. Trinil pantai
  7. Trinil semak
  8. Trinil kaki merah
  9. Kedidi leher merah
  10. Kedidi putih
Advertisements

My Adventure with ASDP Indonesia Ferry

Entah sudah berapa kali saya naik kapal Ferry. Kalau dihitung mungkin lebih dari 10 kali. Sejak kecil saya sudah sering diajak naik kapal Ferry oleh orang tua saya. Maklum, simbah (orang tua ibu) saya adalah seorang transmigran. Saat ini beliau tinggal di Lampung, sementara saya tinggal di Jogja.

Saya selalu excited saat diajak orang tua berkunjung ke Lampung. Apalagi saat melintas Selat Sunda menggunakan kapal Ferry. Selalu ada nuansa adventure yang mengasyikkan!.

Saat berada di kapal, tempat favorit saya adalah di lantai paling atas. Dari tempat itu saya dapat menikmati pemandangan  dengan leluasa. Laut, burung, pulau-pulau, ikan, gunung dan segala hal yang sayang untuk dilewatkan. Kadang pula saya sering berimajinasi menjadi seorang bajak laut yang hebat.

Yang paling saya suka adalah saat bertemu dengan lumba-lumba di laut lepas. Mereka sangat atraktif. Meloncat dan terus berenang mengikuti kapal. Tak terlupakan!.

Gallery Merak-Bakauheni

–..–

Kini, setelah beranjak dewasa, naik kapal Ferry masih menjadi bagian dari cerita petualangan-petualanganku.

Ada cerita menarik saat saya bersama Kelompok Pengamat Burung BIONIC UNY melakukan Ekspedisi di Karimunjawa. Ekspedisi ini terkait penelitian terhadap keberadaan burung Junai Mas (Caleonas nicobarica) dan perilaku makan Betet Biasa ras Karimunjawa (Psittacula alexandri dammermani). Kami berada di pulau itu kurang lebih selama satu bulan.

Rombongan kami berangkat dari Jogja menggunakan sepeda motor. Sesampainya di pelabuhan Jepara, kami tak lantas bisa langsung menyebrang ke pulau Karimun dengan kapal Ferry. Menurut informasi yang kami terima  dari ASDP Indonesia Ferry, saat itu cuaca di laut Jawa sedang tidak bersahabat. Kami harus menunggu dua hari lagi.

Saat itu, jadwal keberangkatan kapal Ferry dari Jepara – Karimunjawa juga tidak setiap hari ada. Seingat saya dua hari sekali. Beruntung, ada teman di Jepara yang bersedia menampung kami selama dua hari itu. Kini, kita tidak perlu khawatir mengenai jadwal keberangkatan kapal. Informasinya bisa dengan mudah kita peroleh melalui www.indonesiaferry.co.id

Dua hari berselang, akhirnya kami dapat menyebrang ke pulau Karimunjawa menggunakan kapal Ferry. Tepat sebelum menyebrang ada kejadian konyol yang saya alami. Motor kami kena razia petugas kepolisian tepat di depan pelabuhan. Masalahnya adalah spion motor hanya terpasang satu !.

Teman-teman kami yang sudah masuk kapal menelpon  berkali-kali. Mereka panik karena kapal segera berangkat. Sementara itu saya dan Abdu masih sibuk melobi polisi. Maksud hati supaya cepat, saya sodori polisi itu dengan uang damai. Ia mengelak. Akhirnya saya meminta polisi itu untuk sesegera mungkin membuatkan surat tilang supaya kami tidak terlambat masuk kapal.

Sesampainya di dermaga, palang pintu menuju kapal sudah dijaga petugas. Kami tak diperbolehkan masuk. Saya pun meyakinkan petugas itu kalau kami sudah membeli tiket dan terlambat karena kena tilang.

Akhirnya kami diijinkan masuk kapal sebagai penumpang terakhir. Benar saja, setelah kami masuk, pintu kapal langsung ditutup dan kapal pun berangkat.

Perjalanan ke Karimunjawa kami tempuh selama 6 jam. Saat itu gelombang sedang tinggi. Beberapa kawan kami mabuk laut karena kapal bergoyang kencang. Meski demikian, keadaan ini membuat semangat berpetualang kami semakin menjadi. Bahkan ada yang menyeletuk “kalau belum mabuk laut, belum ke Karimunjawa!”.

IMG_0103
Tetap tersenyum meski mabuk laut 😀

–..–

Cerita menarik lainnya adalah saat saya blusukan di Taman Nasional Baluran, hutan konservasi di ujung timur pulau Jawa.

Setelah agenda blusukan di Taman Nasional Baluran selesai, kami berencana balik Jogja menggunakan kereta api via stasiun Banyuwangi Baru. Kami tiba di stasiun itu malam hari, kira-kira selepas Isya’. Padahal keberangkatan kereta dari Banyuwangi-Jogja masih jam 06.00 keesokan harinya.

Sembari menunggu keberangkatan kereta, beberapa teman saya mengajak menyebrang ke pulau Bali (Gilimanuk). Ada yang excited karena belum pernah ke Bali, ada pula yang ingin menikmati #AsyiknyaNaikFerry untuk pertama kalinya.

Sesampainya di Gilimanuk, mereka hanya berfoto-foto, setelah itu menyebrang lagi ke Banyuwangi. Waktu itu tiket penyebrangan Ketapang-Gilimanuk hanya Rp. 7.500,00. Sungguh, wisata yang murah tapi mengasyikkan bukan?.

Menyebrang dengan Kapal Ferry ke pulau Bali memang sangat menyenangkan. Meski perjalanannya singkat (45 menit) kita dapat menikmati indahnya pemandangan dari tengah Selat Bali. Jika kita menoleh ke arah pulau Jawa, kita dapat menyaksikan megahnya gunung Ijen dan gunung Raung atau bahkan Baluran sekaligus. Sementara jika kita melihat ke arah pulau Bali, kita disuguhi bukit-bukit hijau yang memukau.

IMG-20180602-WA0000
Pemandangan di tengah Selat Bali (dok : Shaim Basyari)

Di tengah selat Bali ini kita juga dapat menyaksikan perpindahan waktu dari WIB  ke WITA atau sebaliknya. Cobalah sesekali melihat jam di ponselmu, jika kita menuju Gilimanuk jam di ponsel kita langsung bertambah 1 jam. Sementara jika kita menuju Ketapang, jam di ponsel kita berkurang 1 jam.

–..–

Sementara itu, perbedaan yang mencolok saya rasakan saat menyebrang dari pelabuhan Torobulu (pulau Sulawesi)-Tampo (pulau Muna). Tidak seperti di pelabuhan Merak-Bakauheni maupun Ketapang-Gilimanuk yang penyebrangannya 24 jam non-stop, di jalur ini kapal Ferry hanya beroperasi dua kali sehari saja.

Padahal untuk menuju pulau Muna, saat itu hanya bisa ditempuh melalui jalur laut. Baik dari Sulawesi maupun dari pulau Buton. Oleh karena itulah, kapal Ferry benar-benar menjadi bagian penting bagi masyarakat di pulau Muna. Di titik inilah, saya melihat ASDP Indonesia Ferry telah menjadi jembatan penghubung nusantara dengan semboyannya “we bridge the nation”.

Keindahan pemandangan di jalur Torobulu-Tampo ini tak perlu diragukan lagi. Saya bisa melihat pulau-pulau kecil dengan pantai pasir putihnya. Atau sekedar menikmati langit biru dan burung-burung yang terbang di atas kapal. Secangkir kopi yang saya beli di kantin kapal waktu itu pun menambah syahdunya perjalanan di atas laut Banda kala itu.

Sungguh, naik kapal Ferry itu asyiknya kebangetan. Namun ada beberapa hal yang harus kita perhatikan saat naik kapal Ferry,

  • Dilarang berdesakan/berebutan saat naik ke atas kapal dan turun dari kapal
  • Penumpang dilarang berada di ruangan kendaraan (car deck) dan di pinggir realling/pagar selama dalam pelayaran
  • Penumpang dilarang merokok di ruang kendaraan (car deck)
  • Dilarang menghidupkan mesin dan menggerakkan kendaraan selama di atas kapal tanpa seizin petugas kapal

Gallery Torobulu-Tampo

–..–

Bagi kamu yang belum pernah naik kapal Ferry, segeralah naik kapal Ferry supaya kamu bisa menikmati #AsyiknyaNaikFerry . Sekali lagi kamu bisa cari informasi lengkapnya di www.indonesiaferry.co.id. Selamat berpetualang !.

Highlight Birds of Muna #1

Burung pertama yang saya lihat di Muna adalah si kecil, Cabai panggul-kuning. Hampir setiap pagi rombongan burung endemik Sulawesi itu selalu mampir ke pohon talok depan basecamp kami di Lamanu.

IMG_9551
Cabai Panggul-kuning

Burung ini sangat cantik. Sebagaimana namanya, bagian panggulnya berwarna kuning. Dadanya putih. Sedangkan bagian atas burung ini berwarna zaitun kekuningan tua.

Beberapa burung lain juga saya temui di hutan sekitar Lamanu. Setiap pagi saya mencoba menyempatkan birding di hutan ini meski tidak lama. Biasanya dari jam 06.00 – 06.30. Atau di sore hari, seluangnya.

Burung yang menarik perhatian saya saat pertama masuk hutan ini adalah Srigunting jambul-rambut. Seperti umumnya burung Srigunting, ia amat berisik. Burung ini juga memiliki kemampuan menirukan suara burung lain. Warna tubuhnya dominan gelap, mata putih, dan ujung ekornya menggunting. Di ujung ekor yang menggunting itu, bulunya sedikit menjambul.

Tak kalah menarik, ada si endemik jalak tunggir merah. Mereka bergerombol. Bahkan saya pernah menemui sebuah pohon kering yang ranting-rantingnya dipenuhi oleh burung tersebut. Sayang, saya hanya membawa kamera ponsel untuk memotretnya.

Selanjutnya saya juga ketemu dengan kehicap Sulawesi. Bahkan saya dapat berada di jarak ideal untuk memotret burung endemik itu.

Sebagaimana kebiasaan jenis Kehicap yang lain, mereka menyambar serangga di sekitar tempatnya bertengger kemudian kembali ke tenggeran yang sama. Dan saya suka pertunjukan itu.

Birding di malam hari tak kalah mengasyikkan. Saya bertemu dengan Celepuk Sulawesi. Salah satu burung endemic Sulawesi yang aktif di malam hari (nocturnal). Uniknya, masyarakat disini cukup takut dengan kehadiran burung tersebut. Pasalnya, mereka masih percaya bahwa burung ini adalah jelmaan sesosok hantu.

Hal itu yang saya alami ketika teman saya yang asli Muna, La Umar. Dia sangat ketakutan saat saya mintai tolong untuk menerangi burung itu dengan senter. 😀

Other Gallery

List Burung Lamanu

  1. Cabai Panggul-kuning
  2. Kehicap Sulawesi
  3. Burung madu-hitam
  4. Jalak tunggir-merah
  5. Srigunting jambul-rambut
  6. Kepudang kuduk-hitam
  7. Julang Sulawesi (tidak kepotret)
  8. Ayam hutan-merah (hasil berburu warga)
  9. Pelanduk Sulawesi
  10. Kipasan sp
  11. Gagak sp (tidak kepotret)
  12. Walet sp
  13. Nuri sp (tidak kepotret)

Beautifull Sunset from Kawite Wite

Selepas Lamanu yang ngangeni dengan hutan dan pernak perniknya, kami selanjutnya berpindah ke tepi pantai. Nama tempat yang kami tuju ini adalah Kawite wite.

Menurut warga setempat, nama Kawite Wite bermakna tanah yang terkotak kotak. Hal ini dikarenakan, dulu tempat ini adalah hutan mangrove yang tanahnya terkotak kotak karena banyaknya air di sekitarnya.

Kini hutan mangrove itu sudah tak nampak lagi. Hanya sedikit yang tersisa di pinggir pinggir tambak yang kini dominan ditempat ini.

Selama di Kawite Wite, Basecamp kami berada di tengah tambak-tambak ini. Di sana ada tempat pelelangan ikan, juga ada gubuk-gubuk pemilik tambak. Di sinilah selama satu minggu kami berteduh.

IMG_20160811_080841_HDR
Terik

Siang di tempat ini sangatlah terik. Malam banyak nyamuk. Airnya juga payau. Kami harus membeli air untuk kebutuhan MCK dan minum kami sehari-hari. Kadang, saya, Yan dan Umar harus pergi ke desa sebelah sekedar untuk mandi.

Meski demikian, tempat ini memberi keindahan lain yang tak saya dapat selama di Muna. Salah satunya adalah Sunsetnya.

Masyarakat di sekitar Kawite Wite juga menciptakan keasyikan tersendiri. Sebagian besar berasal dari suku Bajo. Rumah-rumah mereka dibuat di atas air di tepi pantai. Ikan laut adalah sumber penghasilan utama masyarakat.

Ada cerita menarik selama kami disini. Kami disambut sangat hangat oleh masyarakat dengan jamuan berbagai jenis makanan yang spesial, juga disuguhi tarian adat mereka. Semua pemuda dan pemudi di desa itu diundang untuk menari bersama kami. Nama tariannya adalah Malulo. Malulo lulo.

Lamanu, a Place to Remember

Sopir Bus DAMRI yang kami sewa mendadak berkata “ ini benar jalannya ? bisa dilewati bus ?” sopir bus itu was-was. Bukan tanpa alasan pak sopir bertanya demikian. Jalan yang kami lalui ini sempit. Belum beraspal. Di kiri kanannya adalah hutan. Kadang laju bus kami harus terhenti karena ada ranting pohon yang melintang.

IMG_20160731_163625_HDR
Welcome to the Jungle

Meski demikian, kami tak cukup khawatir karena di depan bus yang kami tumpangi ada pak Umar, salah satu tim kami yang sudah terlebih dahulu survey ke tempat yang akan kami tuju ini. Beliau juga merupakan warga asli Muna.

Lamanu. Ialah tempat pertama yang kami tuju di pulau Muna ini. Sewaktu kami datang kesini hari sudah mulai gelap, dan hujan sangat deras. Kami dibantu para penduduk lokal untuk merapikan barang-barang yang kami bawa.

IMG_20160731_173937_HDR
Hujan 

Listrik di desa ini masih bergantung pada generator berdaya kecil yang dimiliki oleh tiap warga. Listrik dari PLN belum masuk. Penggunaan listriknya pun tak tentu. Hanya digunakan saat “perlu” saja. Sewaktu kami pertama kali datang, desa ini benar-benar terasa sangat gelap. Maklum, sebelum kesini kami lebih dulu berada di kota Kendari. Pupil mata kami rasanya belum beradaptasi.

Kami menginap di rumah salah satu warga setempat. Rumahnya asyik. Hampir semuanya terbuat dari kayu dan berbentuk rumah panggung. Barang-barang kami disimpan di lorong bawah rumah ini bersama anjing-anjing. Btw, anjing-anjing ini bukan milik tuan rumah. Menurut cerita, anjing-anjing itu datang dari hutan di sekitar desa. Mungkin ada orang yang membuangnya. Atau mereka tersesat saat mengantar pemiliknya ke hutan?

IMG_20160805_072747_HDR
Basecamp

Air untuk kebutuhan kami sehari-hari kami dapat dari sumur di depan rumah. Airnya segar dan jernih. Tidak semua warga memiliki sumur, sehingga sumur di depan rumah yang kami inapi ini selalu rame oleh warga yang mencari air.

Saat mau mandi, kencing atau berak kami harus menimba dulu di sumur. Lalu dibawa dengan ember ke kamar mandi di belakang rumah.

Ada cerita menarik saat teman-teman cewek kami menjemur pakaian di depan kamar mandi ini. Hampir setiap hari saat kami di Lamanu, hujan turun. Teman cewek kami menjemur pakaian dalamnya di depan kamar mandi. Selain ada peneduhnya, mereka malu menjemur pakaian dalamnya di jemuran samping rumah. Keesokan harinya, Sri, salah satu teman cewek kami tanya “ ada yang mindahin jemuran?”. Ternyata tak satupun ada yang memindahkan. Pakaian dalam mereka hilang di curi orang.

Cerita menarik lainnya saat kami 1 tim berangkat ke dalam hutan bersama penduduk lokal. Tiga orang teman kami (1 cowok (Yan), 2 cewek (Dhita dan Nur)) tersesat.

Ceritanya begini. Kami masuk hutan dipandu tenaga lokal. Tiga orang pemandu lokal ada di depan penunjuk jalan, sementara saya dan pak umar, bu Anis, pak Simpu mengikuti mereka tepat dibelakangnya. Tiga teman saya itu ada di paling belakang. Mungkin karena 3 orang penduduk lokal di paling depan berjalan terlalu cepat, membuat mereka keteteran. Nah ternyata di belakang mereka ada anak kecil yang mengikuti, namanya Amal. Saat Amal tahu ketiga teman saya berada di jalur yang salah ia teriak “ Hoooi.. Nohala Kangkahamua !!”. Begitu teriaknya berulang-ulang. Dia cerita begini saat bertemu kami di lokasi tujuan. Sontak kita semua tertawa. Bukan menertawakan teman saya yang tersesat, tapi tertawa bagaimana La Amal memanggil teman kami dengan bahasa Muna.nya itu. Pantas saja 3 teman saya tetap melanjutkan perjalanannya meskipun telah diperingatkan La Amal  “Nohala Kangkahamua” berarti “Kamu salah jalan”. Oya, “La” itu sebutan untuk anak laki-laki sedangkan “Wa” sebutan untuk anak perempuan.

IMG_20160803_151143_HDR
Melintas Sungai di tengah hutan 

–..–

Dengan segala keterbatasan  itu saya tetap cinta tempat ini. Tempat dimana burung-burung liar masih berkeliaran (nanti ada cerita khusus tentang burung Lamanu, Muna, tunggu ya!). Hutan yang cukup terjaga. Juga tak kalah menarik makanannya.

Di Lamanu, saya beberapa kali mencoba makanan khas seperti Kabuto.  Saya juga pernah mencicipi “Sadap”, minuman yang terbuat dari nira kelapa. Kadang ada yang difermentasi. Kalau yang sudah fermentasi bikin mabuk. Kebiasaan orang disini minum ‘sadap’ saat acara-acara sosial seperti pertemuan warga, hajatan atau sekedar pelepas lelah.

Gallery lain :

Hutan yang asri, malam penuh bintang, kesederhanaan, keramahan, membuat saya sepertinya tak pernah melupakan tempat ini. A place to remember.

A Journey to Muna Island

Tulisan ini adalah sambungan cerita sebelumnya yakni Mencicipi Burung Sulawesi #1 dan Mencicipi Burung Sulawesi #2

Setelah kurang lebih 2 minggu mengikuti Training Center di kota Kendari, kami melanjutkan kegiatan pengambilan data Vektor dan Reservoir di Kabupaten Muna. Kabupaten Muna terletak di pulau Muna, sebelah tenggara pulau Sulawesi. Tepat di sebelah barat pulau Buton.

Perjalanan ke pulau Muna kami tempuh melalui jalur darat menggunakan bus DAMRI (satu-satunya angkutan umum jurusan Kendari-Muna). Kami berangkat pagi-pagi sekali sekitar pukul 06.00 WITA agar tidak ketinggalan kapal penyebrangan dari pelabuhan Torobulu ke Tampo, Muna.

IMG_20160731_065838
Selpi Selpi Selpi 😀

Dari kota Kendari sampai pelabuhan Torobulu kami tempuh selama kurang lebih 4-5 jam. Perjalanan dari Kendari hingga ke pelabuhan ini cukup mengasyikkan. Selain melihat pemukiman penduduk setempat dan aktivitasnya, menikmati alam di sepanjang perjalanan menjadi hiburan bagi saya.

Apalagi saat melintas di hutan dekat Kecamatan Tanea yang saya ceritakan sebelumnya. Hutan yang masih cukup bagus dengan pohon-pohon besar yang menghiasinya. Pikiran saya pun melayang berharap bisa blusukan dan beralama-lama di hutan itu.

–..—

Sesampainya di pelabuhan Torobulu, antrean kendaraan yang akan masuk ke kapal sudah mengular. Kami turun dari bus, memesan tiket kemudian masuk ke dalam kapal.

Penyebrangan dari pelabuhan Torobulu ke Tampo, Muna kami tempuh selama 2 jam. Sekedar info, Kapal Feri yang melayani rute ini (Torobulu-Tampo) hanya beroperasi 2 kali saja. Sehingga apabila kita terlambat sampai di pelabuhan, harus menunggu kapal penyebrangan berikutnya dengan jarak waktu yang cukup lama.

IMG_20160830_144159
Salah satu pemandangan di dalam kapal 😀

Sesaat sebelum keberangkatan kapal, saya sempatkan untuk melihat pemandangan di sekitar pelabuhan Torobulu. Juga tak lupa burung-burung yang ada di sekitarnya. Terlihat Dara laut-jambul bertengger di atas tiang-tiang sekitar pelabuhan ini.

Di tengah laut, pemandangannya juga tak kalah menarik. Kapal kami beberapa kali melintasi pulau-pulau kecil yang cantik. Sesekali burung-burung laut seperti Cikalang melintas di atas kapal kami. Ditambah lagi langit yang biru dan laut yang tenang menambah kenikmatan kopi yang saya beli di kantin kapal. Oh, sungguh menawan.

Sesampainya di Tampo, Muna, kami beristirahat di salah satu warung dan menikmati hidangan khas pesisir. Apalagi kalo bukan ikan laut !. Btw, bumbu masak ikan laut disini cenderung tidak neko-neko, bahkan hanya dibakar dan diperlengkap dengan sambel yang super pedes itu. Hmm, pokoknya nikmat lah.

–..–

Mencicipi Burung Sulawesi #2

Setelah kurang lebih satu minggu di kota Kendari, kesempatan blusukan akhirnya datang. Masih dalam rangka Training Center Rikhus Vektora, tim saya kejatah untuk melakukan kegiatan lapangan di Kec. Tanea, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.

Daerah ini cukup menarik karena di sekelilingnya masih terdapat hutan yang cukup lebat. Meskipun demikian, lalu lintas di daerah ini cukup padat karena merupakan jalur ke pelabuhan Torobulu.  Dari kota Kendari daerah ini dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 1-2 jam. Waktu itu kami menggunakan mobil sewa.

Saat pertama kali mendarat di Tanea, mata saya langsung tertuju pada bukit di sebelah desa yang masih dipenuhi dengan rimbunnya pepohonan. Tentu saja berharap dapat melihat burung-burung “aneh” yang tak dapat saya temui di Jawa. Sayang, karena jaraknya terlalu jauh saya tak dapat dengan leluasa melihat penghuni-penghuni hutan itu.

Meskipun demikian, tempat yang saya kunjungi ini masih terdapat banyak kebun-kebun dengan vegetasi yang lumayan beragam sebagai tempat alternatif saya melihat burung. Sebenarnya, tak banyak juga jenis burung yang bisa saya temui di sini. Itu tidak lain karena aktivitas lapangan kami yang cukup padat.

Burung favorit saya di tempat ini adalah Serindit Sulawesi dan Burung madu hitam. Untuk Serindit Sulawesi, saya temui saat sedang bersantai di teras rumah pak kades (tempat kami menginap). Mula-mula burung ini hinggap di pohon dekat rumah pak kades (cukup tinggi). Waktu itu hanya terlihat hijau saja membuatnya tersamar oleh daun-daun di sekelilingnya.

Saya bergegas mengambil kamera dan berusaha mendekat ke pohon itu. Tak disangka, sewaktu saya mendekat ke pohon, dia bukannya kabur malah mendekat ke batang pohon yang sudah mati tepat di depan saya. Mungkin dia ingin mengambil air dari pangkal batang pohon itu.

IMG_9375
Serindit Sulawesi

Lain lagi dengan Burung madu hitam. Burung ini saya temui saat kami sedang memasang jala kabut untuk menangkap kelelawar. Disamping jala kabut yang kami pasang tersebut, terdapat pohon jambu yang sedang berbunga. Nah, saya dapat melihat burung ini saat mereka asyik menyantap nektar bunga-bunga tersebut.

IMG_9211
Burung Madu Hitam – Betina (Jantan menyusul ya) haha

Burung lain yang terekam 😀

Oya, selain burung ada hal menarik yang saya temui disini. Hampir setiap pekarangan atau kebun warga, saya  dapat menemukan kuburan. Memang, warga di desa ini tidak memiliki kuburan umum seperti kebanyakan orang di pulau Jawa. Mereka mengubur sanak saudaranya di kebun/pekarangan sekitar rumah.

Di sini saya juga menikmati hidangan khas suku Tolaki yakni Sinonggi. Sinonggi adalah makanan yang terbuat dari pati sagu. Jika dilihat sekilas mirip bubur tetapi kental. Cara makannya dicampur dengan lauk pauk yang berkuah. Kalau tidak dicampur dengan kuah, Sinonggi akan lengket ke piring atau sendok.

IMG_20160724_195001_HDR
Maaf ya udah mau habis 😀

—..—